Sabtu, 21 Maret 2015

Sedikit saran dari kami binusian

Untuk melakukan sosialisasi maka ada baik nya kita memulai untuk melakukan kampanye hidup sehat, sehingga makin tinggi kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. selain itu ada baik nya juga kita memulai dari tingkat pendidikan yang paling bawah di mulai dari TK sehingga dari usia dini anak-anak sudah mengerti bahaya dan selalu menjaga kesehatan mereka.
Kemudian untuk sosialisasi lebih lanjut kita dapat membuat seminar-seminar secara gratis untuk masyarakat secara umum, dan melakukan kegiatan seperti run for leprosy sehinnga masyarakat makin sadar akan penyakit ini.

Kita butuh komitment untuk mereka!

Semua berawal dari komitment yang berasal dari diri sendiri, namun dari saya sendiri saya akan berkomitment untuk membantu mereka sebaik dan semampu saya untuk meringkan beban mereka baik secara materi maupun dukungan secara moril. Selain itu kita juga harus melakukan gerakan sehingga banyak masyarakat yang makin sadar akan bahaya dari penyakit ini dan meningkatkan kesadaran masyarakat pula untuk menjaga kebersihan baik diri sendiri dan orang sekitar yang mereka sayangi. sehingga untuk kedepannya penyakit ini dapat di kurangi secara signifikan.

Semua tentang kusta, penting!

Pengertian Penyakit kusta
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kumanMycobacterium leprae yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (kulit), saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endothelial, mata, otot, tulang dan testis (Subdirektorat Kusta dan Frambusia, 2007). Kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus Hansen merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, melalui kulit dan mukosa hidung. Penyakit kusta terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat yang apabila tidak didiagnosis dan diobati secara dini dapat menimbulkan kecacatan (Subdirektorat Kusta dan Frambusia, 2007).
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai aktivitas afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian ke organ lain. (Djuanda, 2011)
Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun dan penularannya kepada orang lain memerlukan waktu yang cukup lama tidak seperti penyakit lainnya. Masa inkubasinya adalah 2-5 tahun. Penyakit ini menyerang kulit, mukosa mulut, saluran pernafasan bagian atas, mata, otot, tulang dan testis. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimtomatik. Namun pada sebagian kecil memperhatikan gejala-gejala yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat khususnya pada tangan dan kaki(Departemen Kesehatan RI, 2006).

Sejarah
Penyakit kusta telah menyerang manusia sepanjang sejarah. Banyak para ahli percaya bahwa tulisan pertama tentang kusta muncul dalam sebuah dokumen Papirus Mesir ditulis sekitar tahun 1550 SM. Sekitar tahun 600 SM, ditemukan sebuah tulisan berbahasa India menggambarkan penyakit yang menyerupai kusta. Di Eropa, kusta pertama kali muncul dalam catatan Yunani Kuno setelah tentara Alexander Agung kembali dari India. Kemudian di Roma pada 62 SM bertepatan dengan kembalinya pasukan Pompei dari Asia Kecil.
Sepanjang sejarahnya, kusta telah ditakuti dan disalah pahami. Untuk waktu yang lama kusta dianggap sebagai penyakit keturunan, kutukan, atau hukuman dari Tuhan. Sebelum dan bahkan setelah penemuan bakteri penyebab kusta, orang yang pernah mengalami kusta menghadapi stigma dan dijauhi oleh masyarakat.
Pada tahun 1873, Dr Gerhard Armauer Henrik Hansen dari Norwegia adalah orang pertama yang mengidentifikasi kuman yang menyebabkan penyakit kusta di bawah mikroskop. Hansen penemuan Mycobacterium leprae membuktikan bahwa kusta disebabkan oleh kuman, dan dengan demikian tidak turun-temurun, dari kutukan, atau dari dosa.
Pada tahun 1941, Promin, sebuah sulfon obat, diperkenalkan sebagai obat untuk kusta. Pertama kali diidentifikasi dan digunakan di Carville. Promin berhasil merawat kusta tapi sayangnya Promin menimbulkan efek yang menyakitkan ketika disuntikkan pada pasien.
Pada tahun 1950, Pil Dapson, ditemukan oleh Dr R.G. Cochrane di Carville, menjadi pilihan untuk pengobatan kusta. Dapson bekerja luar biasa pada awalnya, tetapi sayangnya, Micobacterium leprae pada akhirnya mulai mengembangkan perlawanan terhadap dapson. Sukses pertama multi-obat perawatan (MDT) rejimen untuk kusta dikembangkan melalui uji coba obat di pulau Malta. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan MDT mulai, kombinasi dari tiga obat: dapson, rifampisin, dan clofazimine. (Perhimpunan Mandiri Kusta Indonesia, 2012).
Etiologi
Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobactorium Leprae dimana untuk pertama kali ditemukan oleh G.H. Armauer Hansen pada tahun 1973.Mycobactorium Leprae hidup intraseluler dan mempunyai afinitas yang besar pada sel saraf (Schwan Cell) dan sel dari system retikulo endothelial. Waktu pembelahan sangat lama, yaitu 2-3 minggu. Di luar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dari secret nasal dapat bertahan sampai 9 hari (Desikan 1977, Hasting, 1985). Pertumbuhan optimal in vivo kuman kusta pada tikus adalah pada suhu 27-30° C (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Manifestasi Penyakit Kusta
Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama atau Cardinal Sign,yaitu :
1)      Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa
Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau kemerah-merahan (erithematous) yang mati rasa (anaesthesi).
2)      Penebalan saraf yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.
Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis peritis). Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa :
a.    Gangguan fungsi sensoris   : mati rasa
b.   Gangguan fungsi motoris   : kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise)
c.    Gangguan fungsi otonom   : kulit kering dan retak-retak.
3)      Adanya bakteri tahan asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit (BTA positif).
Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda utama di atas. Pada dasarnya sebagian besar kasus dapat di diagnosis dengan pemeriksaan klinis. Namun demikian pada kasus yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan kerokan kulit. Apabila hanya ditemukan Cardinal Sign ke-2 perlu dirujuk kepada wasor atau ahli kusta, jika masih ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai (suspek).
Tanda-tanda tersangka kusta (suspek)
1)      Tanda-tanda pada kulit
a.    Bercak/kelainan kulit yang merah atau putih dibagian tubuh
b.   Bercak yang tidak gatal dan Kulit mengkilap
c.    Adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut
d.   Lepuh tidak nyeri
2)      Tanda-tanda pada saraf
a.    Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka
b.   Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka
c.    Adanya cacat (deformitas) dan luka (ulkus) yang tidak mau sembuh

Derajat Cacat Kusta
Menurut Djuanda, A, 2011 membagi cacat kusta menjadi 2 tingkat kecacatan, yaitu:
a.    Cacat pada tangan dan kaki
1)        Tingkat 0 : tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat.
2)        Tingkat 1 : ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang terlihat.
3)        Tingkat 2 : terdapat kerusakan atau deformitas.
b.    Cacat pada mata
1)   Tingkat 0  : tidak ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan penglihatan.
2)   Tingkat 1  : ada gangguan pada mata akibat kusta; tidak ada gangguan yang berat pada penglihatan. Visus 6/60 atau lebih baik (dapat menghitung jari pada jarak 6 meter).
3)   Tingkat 2   : gangguan penglihatan berat (visus kurang dari 6/60; tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 meter).

Jenis – Jenis Cacat kusta
Menurut Djuanda A. (2011) jenis dari cacat kusta dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu :
a.    Cacat primer
Adalah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respon jaringan terhadap mycobacterium leprae. Termasuk kedalam cacat primer adalah :
1)      Cacat pada fungsi saraf
a)    Fungsi saraf sensorik misalnya : anestesi
b)   Fungsi saraf motorik misalnya : daw hand, wist drop, fot drop, clow tes, lagoptalmus
c)    Fungsi saraf otonom dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan elastisitas kulit berkurang, serta gangguan reflek vasodilatasi.
2)      Inflamasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipat.
3)      Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendon, ligamen, tulang rawan, testis, dan bola mata.
b.    Cacat sekunder
1)      Cacat ini terjadi akibat cacat primer, terutama adanya kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom.
2)      Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur, sehingga terjadi gangguan berjalan dan mudah terjadinya luka.
3)      Lagoptalmus menyebabkan kornea menjadi kering dan memudahkan terjadinya kreatitis.
4)      Kelumpuhan saraf otonom menjadikan kulit kering dan berkurangnya elastisitas akibat kulit mudah retak dan terjadi infeksi skunder.

Pengobatan Penyakit Kusta
2.4.1   Tujuan Pengobatan
Melalui pengobatan, penderita diberikan obat-obat yang dapat membunuh kuman kusta, dengan demikian pengobatan akan:
a.         Memutuskan mata rantai penularan
b.         Menyembuhkan penyakit penderita
c.         Mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan.
Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. Dengan hancurnya kuman maka sumber penularan dari penderita terutama tipe MB ke orang lain terputus.
Penderita yang sudah dalam keadaan cacat permanen, pengobatan, hanya dapat mencegah cacat lebih lanjut.
Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur, maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali, sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. Di sinilah pentingnya pengobatan sedini mungkin dan teratur. Selama dalam pengobatan penderita-penderita dapat terus bersekolah atau bekerja seperti biasa (Departemen Kesehatan RI, 2006).

Kesan saat lari bersama untuk penderita leprosy

Pada hari minggu tanggal 15 maret 2015, kita binusian lari bersama untuk mengumpulkan dana untuk para penderita leprosy, acara di mulai pukul 05.00WIB mata masih ngantuk udara dingin pengennya sih tidur lagi, tapi tidak menyurutkan niat kami untuk membantu teman-teman kami karena saat tiba di lokasi lari yang bertempat di main kampus binus suasana nya luar biasa seru banget, di mulai dengan pemanasan untuk lari sampai foto-foto bersama tidak hanya itu ternyata yang hadir bukan hanya dari kalangan binusian saja namun ternyata banyak masyarakat yang sadar untuk datang dan berlari bersama untuk teman-teman penderita leprosy, salut dengan antusias masyarkat yang rela datang untuk meramaikan acara ini, dan terbersit rasa bangga bahwa masyarakat Indonesia masih ada untuk membantu yang lain. Saya sendiri secara pribadi sangat senang dengan acara ini yang membuat kita berolahraga sekaligus membantu teman-teman penderita leprosy. Dan saya sangat mengharapkan acara ini di buat secara berkala dan dengan skala yang lebih besar lagi sehinnga dapat membantu teman-teman dan saudara kita yang masih kurang beruntung atau ada kekurangan sehinnga dapat meringakan beban meraka.